Data statistik sering kali mengejutkan: Jutaan lulusan perguruan tinggi di Indonesia berjuang mencari pekerjaan yang relevan, menyumbang pada angka pengangguran yang terus meningkat. Ironisnya, akar masalah ini mungkin tidak terletak pada kurangnya lapangan kerja, melainkan pada sebuah keputusan krusial yang dibuat jauh sebelum toga dipakai: kesalahan dalam memilih jurusan kuliah.
Hasil survei dari Integrity Development Flexibility (IDF) di tahun 2021 menunjukkan bahwa 87% mahasiswa merasa salah jurusan, yang berdampak pada kebingungan karir setelah lulus kuliah. Data hasil survei juga mengungkapkan bahwa sebanyak 92% siswa SMA mengalami kebingungan dan ketidakpastian mengenai pilihan karir di masa depan, dengan sebagian besar (67,8%) responden sering kebingungan soal profesi setelah lulus, dan ada keinginan kuat untuk pindah jurusan bagi sebagian mahasiswa (sekitar 18,9%).
Adapun penyebab dari fenomena di atas antara lain:
1. FOMO (Fear Of Missing Out), yaitu adanya keinginan untuk mengikuti tren sehingga mengabaikan minat dan bakat pribadi,
2. Belum mengetahui minat bakat pribadi, sehingga memilih jurusan secara acak.
3. Tekanan dan paksaan dari orangtua untuk mengambil jurusan tertentu.
4. Tawaran beasiswa yang hanya terbuka untuk jurusan-jurusan tertentu.
Pemilihan jurusan yang tidak sesuai minat, bakat, dan kepribadian, dapat memicu penyesalan dan perasaan salah langkah dalam hidup. Hal ini mengakibatkan dampak yang lebih luas, mulai dari dampak psikologis (stres, merasa tidak percaya diri, tekanan mental, kehilangan motivasi, dan merasa kehilangan arah), akademik (prestasi menurun, biaya dan waktu terbuang, risiko drop-out), sosial (hubungan renggang, sulit mencari jejaring sosial karena tidak aktif dalam kegiatan yang tidak diminati sejak awal), hingga karir (kesulitan mencari kerja, karir tidak sesuai keinginan, tidak antusias dalam bekerja).
Data statistik menunjukkan bahwa hampir 20% mahasiswa SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) mengalami putus kuliah karena tidak bisa pindah jurusan. Menurut data BPS yang dirilis pada akhir 2025, sekitar 35,36% pekerja muda di Indonesia bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya (misalnya, lulusan sarjana bekerja di posisi yang setara SMA). Yang lebih mengkhawatirkan, laporan BPS pada tahun 2023 mengungkap bahwa terdapat sekitar 9,9 juta penduduk usia muda (15-24 tahun) yang menganggur, dimana salah satu faktor penyebabnya adalah karena salah memilih sekolah dan jurusan.
Lalu, bagaimana langkah selanjutnya?
Minat dan potensi diri dapat diketahui sejak awal dengan cara refleksi diri, mencoba berbagai aktivitas baru, meminta masukan dari orang terdekat, serta mengikuti tes minat dan bakat. Perhatikan hal-hal yang kamu sukai dan kuasai dengan mudah, cari informasi mendalam tentang jurusan yang kamu inginkan dan prospek kerjanya, serta diskusikan dengan orang tua atau guru untuk mendapatkan pandangan objektif.
Tes minat dan bakat saat ini menjadi cukup populer sebagai asesmen psikologis untuk mengidentifikasi potensi, minat, dan kecenderungan individu (anak sekolah hingga dewasa) dalam memilih jurusan pendidikan atau jalur karier yang sesuai. Tes minat dan bakat biasanya melibatkan pengerjaan tes psikologi dan konsultasi dengan psikolog profesional untuk mendapatkan laporan komprehensif tentang diri Anda.
Jika Anda tertarik untuk mengikuti tes minat dan bakat di MAHA Development Center, Anda dapat mengirim identitas Anda pada kolom pendaftaran di bawah, dan admin kami akan menghubungi Anda!